Kamis, 13 Juni 2013

Kritik Sosial dalam Lirik Lagu Iwan Fals


KRITIK SOSIAL DALAM LIRIK LAGU IWAN FALS
PERIODE TAHUN 1980-1992

RONALD ALBERT MICHAEL WIJAYA
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas PGRI Adi Buana Surabaya
Abstrak

Bahasa merupakan sebagai sistem  ketandaan tingkat pertama, yang sudah mempunyai arti (meaning). Dalam karya sastra arti bahasa ini ditingkatkan menjadi makna (significance) sebagai sitem tanda tingkat kedua. Seni musik merupakan sarana budaya yang hadir dalam masyarakat sebagai konstruksi dari realitas sosial yang dituangkan dalam bentuk lirik lagu. Pada prinsipnya lirik lagu dapat menyatakan realitas kehidupan. Lirik Iwan Fals cukup berbeda, karena Iwan Fals tidak mempersoalkan kelas tetapi lebih mengkritisi kelas tertentu yang melakukan penidasan atau praktik ketidak adilan. Data yang dikumpulkan berupa lirik lagu Iwan Fals. Pengumpulan data dilakukan dengan mendengarkan lagu Iwan Fals, kemudian mentranskripsikan lirik-lirik lagu Iwan Fals. Hasil yang diperoleh dari penelitian dalam kritik sosial dalam lirik lagu Iwan Fals dapat disimpulkan bahwa setiap lirik lagu Iwan Fals selalu mencerminkan kondisi sosial yang terjadi saat lirik tersebut dicipta, seperti pada lirik kisah motorku, sarjana muda, guru umar bakri, tak biru lagi lautku, isi rimba tak ada tempat berpijak lagi, kereta tiba pukul berapa, siang seberang istana, sore tugu pancoran, ujung aspal pondok gede, tikus kantor, lancer, surat buat wakil rakyat, bongkar, bento, dan mereka ada dijalan.
Kata Kunci : Bahasa, Iklan, Semiotika.
Abstract
Language is sign system first level, which already has a meaning (Meaning). In this language literature meaning elevated to meaning (significance) as sign system second level. Music is a means of cultures present in the community as the construction of social reality embodied in the form of song lyrics. In principle, the lyrics of the song to express the reality of life. Lyrics of Iwan Fals’s song quite different, because Iwan fals did not question the class but more critical of a particular class or practice that does oppression injustice. Data collected in the form Iwan Fals lyric song. Data collection is done by listening to the Iwan Fals song, then transcribe the lyrics Iwan Fals. The results obtained from research in the social criticism in the lyrics of the Iwan Fals’s song can be concluded that each Iwan Fals’s song  always reflect the social conditions that occur when the lyrics created, as on the lyrics kisah motorku, sarjana muda, guru umar bakri, tak biru lagi lautku, isi rimba tak ada tempat berpijak lagi, kereta tiba pukul berapa, siang seberang istana, sore tugu pancoran, ujung aspal pondok gede, tikus kantor, lancer, surat buat wakil rakyat, bongkar, bento, dan mereka ada dijalan.
Key Words :Language, Lyric Song, Social Criticism

PENDAHULUAN
Pada perkembangannya, bahasa puisi diapresiasikan oleh sarana kesenian salah satunya lirik lagu dalam seni musik. Seni musik merupakan sarana budaya yang hadir dalam masyarakat sebagai konstruksi dari realitas sosial yang dituangkan dalam bentuk lirik lagu. Pada  awalnya kebutuhan lagu digunakan untuk kepentingan upacara adat dan upacara ritual. Tetapi, seiring perkembangan masyarakat musik telah berubah, bergeser menjadi sebuah komoditi yang dikomersialisasikan dan menjadi barang ekonomi yang diperjualbelikan.
Musik merupakan perilaku sosial yang kompleks dan universal yang didalamnya memuat sebuah ungkapan pikiran manusia, gagasan, dan ide-ide yang mengandung sebuah pesan yang signifikan. Pesan atau ide yang disampaikan melalui musik atau lagu biasanya memiliki keterkaitan dengan konteks sosial. Lagu tidak hanya sebuah gagasan untuk menghibur, tetapi memiliki pesan-pesan moral atau idealisme.
Pada saat ini kebanyakan orang lebih suka musik yang berbau cinta dan musik yang tidak ada lirik edukatif. Seperti pada saat ini banyak anak-anak kecil yang menyanyikan lagu liriknya bermakna putus cinta atau lagu-lagu populer sesaat yang tanpa makna dan mendidik. Seharusnya anak kecil menyanyikan lagu anak-anak yang semua liriknya mengandung keceriaan dan semangat untuk menjalani masa-masa kecil.
Dalam kanca musik Indonesia saat ini, musik-musik dalam negri di banjiri oleh Boy-band, karena produser musik adalah sebuah industri yang mencari untung dan tak mau rugi. Pada jaman sekarang ini musik yang bermaknakan kritik sosial dapat dikatakan vakum, dan tergantikan dengan musik yang berbau cinta dan tanpa makana yang mendidik. Seperti halnya saat ini bermunculan wajah-wajah baru dalam kanca musik Indonesia, yaitu k-pop yang sama saja tak menyentuh  pada musik yang bertema kritik sosial. Lirik-liriknya hanya bertemakan tentang keputus asaan, patah hati dan lain sebainya.
Bahasa lirik lagu sebenarnya tidak jauh berbeda dengan bahasa puisi. Hal ini sesuai dengan pengertian lirik lagu menurut Semi (1988:106) yang mengatakan, “lirik adalah puisi yang pendek yang mengekspresikan emosi”. Hal ini juga diperkuat pada definisi lain mengenai lirik lagu terdapat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1990: 528), yaitu lirik lagu adalah karya puisi yang dinyanyikan. Bentuk ekspresi emotif tersebut diwujudkan dalam bunyi dan kata. Bahasa pada lirik lagu memiliki kaidah-kaidah puisi yaitu terdapat unsur emotif melalui bunyi dan kata. Selain itu untuk memperoleh kesan tertentu seperti puisi, bahasa lirik lagu juga bersifat ringkas-padat. Hal ini disebabkan lirik lagu telah mengalami proses pemadatan makna dan kreativitas pemilihan diksi dari penyairnya.
Pada prinsipnya lirik lagu dapat menyatakan realitas kehidupan. Realitas yang dibawakan akan menjadi lebih menarik, menyentuh hati atau bahkan mamampu membawa dalam imajinasi. Realita kehidupan merupakan hal yang paling dekat dibawakan pada lirik lagu.
Maka jika dihubungkan dengan realita, lirik Iwan Fals cukup berbeda, karena Iwan Fals tidak mempersoalkan kelas tetapi lebih mengkritisi kelas tertentu yang melakukan penidasan atau praktik ketidak adilan.
Di dalam lagu-lagu Iwan Fals sebagaian besar bertemakan kritik dan keadilan sosial. Dengan mengetahui sebuah tema yang terdapat dalam suatu karya sastra khususnya pada lirik lagu, kita dapat memaknai atau mengetahui maksud yang akan disampaikan.
Sebagai penulis lirik lagu, Iwan Fals mengeluarkan album dari periode tahun 1979-2007 serta album-album yang dibuat kumpulan (the best) maupun yang diaransemen ulang dan juga kumpulan lagu single-nya. Iwan fals merupakan pengarang yang mengandalkan kekuatan dalam lirik lagunya. Ciri khas yang terdapat dalam lirik lagu Iwan Fals adalah penggunaan “tema” yang selalu berhungan dengan kehidupan yang selalu kita jumpai. Dalam mencipta lagu, Iwan mendapat inspirasi dari koran, televisi, keadaan sekitar dan alam, dengan demikian kita dapat mengerti maksud lagu-lagu Iwan Fals.
Saat mencari sebuah makna yang terkandung dalam sebuah karya sastra khususnya lirik lagu memerlukan konvensi ketidak langsungan ekspresi. Ketidaklangsungan itu merupakan konvensi sastra pada umumnya. Karya sastra itu merupakan ekspresi yang tidak langsung, yaitu menyatakan pikiran atau gagasan secara tidak langsung, dengan cara lain. Ketidaklangsungan ekspresi itu disebabkan oleh tiga hal, yaitu penggantian arti (displacing of meaning), penyimpangan arti (distorting of meaning), penciptaan arti (creating of meaning) (Riffaterre dalam Pradopo 2011: 124).
METODE
Untuk mencapai suatu tujuan penelitian perlu digunakan metode atau cara-cara tertentu agar mendapatkan hasil yang diharapkan dalam melakukan sesuatu penelitian ilmiah. Sebab dengan metode penelitian kita bisa menentukan berhasil tidaknya suatu penelitian serta dapat menentukan kualitas dari tujuan penelitian tersebut. Dalam bab ini, akan diuraikan metode penelitian yang akan digunakan dalam menganalisis lirik lagu Iwan Fals yaitu tentang Kritik Sosial yang terdapat dalam lirik-lirik lagu yang akan dianalisis. Data yang dikumpulkan adalah berupa kata-kata dan bukan angka-angka. Hal itu disebabkan oleh adanya penerapan metode kualitatif. Selain itu, semua yang dikumpulkan berkemungkinan menjadi kunci terhadap apa yang sudah diteliti.
 Analisis data yang digunakan oleh penulis adalah Menginterpretasi berdasarkan teori yang digunakan untuk mendapatkan deskripsi atau gambaran makna dalam lirik lagu Iwan Fals yaitu dengan mengumpulkan data yang berupa lirik lagu.
Analisis data dari data yang dikumpulkan adalah sebagai berikut. Menganalisis makna yang terkandung dalam setiap lirik lagu Iwan Fals dengan menggunakan konvensi ketidak langsungan ekspresi. Kemudian dari makan itu akan tergambar, apa maksud dan tujuan pengarang menuliskan karyanya. Karena biasanya setiap karya sastra itu berhubungan dengan keadaan sosial saat diciptanya karya sastra itu.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Karya sastra itu merupakan suatu bentuk ekspresi yang tidak langsung, yaitu menyatakan pokok pikiran dengan cara tidak langsung, sehingga mempersulit seorang pembaca untuk mengetahui makna yang terkandung didalamnya (puisi). Untuk mengetahui makna puisi secara utuh diperlukan aturan/konvensi sastra, yaitu konvensi ketidaklangsungan ekspresi. Konvensi ketidaklangsungan ekspresi itu meliputi tiga hal, yaitu: (1) penggantian arti (displacing of meaning), (2) penyimpangan arti (distorting of meaning), (3) penciptaan arti (creating of meaning).


A.   Kritik Terhadap Pembangunan
Lirik Lagu “Isi Rimba Tak Ada Tempat Berpijak Lagi”  ( Album Opini 1982 )
Hutan  merupakan jantung kehidupan bagi setiap makhluk, terutama hewan. Manusia juga memerlukan hutan untuk ketergantungan hidupnya, karena hutan terdapat SDA didalamnya yang dibutuhkan manusia untuk kelangsungan hidupnya. Maka dari itu rawatlah hutan kita. Berikut ini merupakan lirik lagu Iwan Fals mengenai penggusuran hutan.
Raung buldozer gemuruh pohon tumbang
Berpadu dengan jerit isi rimba raya
Tawa kelakar badut badut serakah
Tanpa HPH berbuat semaunya
Lestarikan alam hanya celoteh belaka
Lestarikan alam mengapa tidak dari dulu
Oh mengapa
Oh jelas kami kecewa
Menatap rimba yang dulu perkasa
Kini tinggal cerita
Pengantar lelap si buyung
Bencana erosi selalu datang menghantui
Tanah kering kerontang banjir datang itu pasti
Isi rimba tak ada tempat berpijak lagi
Punah dengan sendirinya akibat rakus manusia
Lestarikan hutan hanya celoteh belaka
Lestarikan hutan mengapa tidak dari dulu
Saja
Oh jelas kami kecewa
Mendengar gergaji tak pernah berhenti
Demi kantong pribadi
Tak ingat rejeki generasi nanti
1.    Penggantian arti
Dalam lirik lagu ini iwan fals menggunakan bahasa kiasan atau gaya bahasa, khususnya metafora. Metafora merupakan kiasan pembanding yang sehingga mengalihkan arti trtentu kepada suatu hal yang lain. Seperti dalam penggalan lirik “Rimba yang dulu perkasa” ini jika diartikan secara satu persatu maka artinya akan rancu. Rimba merupakan hutan yang amat sangat lebat, yang ditumbuhi oleh pepohonan yang besar dan rimbun. Perkasa merupakan suatu sifat yang kuat dan tangguh serta berani, dan sifat ini biasanya ditujukan kepada manusia.
Pada penggalan lirik diatas, gambaran tidaklah disebutkan secara terang-terangan. Dengan demikian gambaran itu kita cari sendiri. Gambaran dalam kalimat tersebut menunjukkan mengenai keadaan hutan yang dahulunya masih alami. Dengan demikian lirik tersebut berarti “keadaan hutan yang masalalunya masih sangat indah dan rimbun oleh pepohonan yang belum terjamah tangan jail manusia yang sehingga merusak keindahan hutan itu seperti sekarang”



2.    Penyimpangan arti
a)    Ambiguitas
Dalam lirik lagu ini juga memiliki arti ganda, seperti dalam penggalan lirik “Berpadu dengan jerit isi rimba raya”. Jerit isi rimba raya dalam lirik ini memiliki arti ganda. Bisa diartikan sebagai suara yang melengking dari hewan yang hidup didalam hutan, namun bisa diartikan juga sebagai hutannya yang menjerit, karena pepohonan telah ditebangi.
b)    Kontradiksi
Pada lirik lagu diatas juga terdapat kontradiksi atau penggunaan kata yang berlawanan. Berikut ini adalah penggalan lirik yang terdapat kontradiksi didalamnya.
Raung buldozer gemuruh pohon tumbang
Berpadu dengan jerit isi rimba raya
Tawa kelakar badut badut serakah
Tanpa HPH berbuat semaunya
Lirik di atas terdapat antitesis yaitu adanya pertentangan antara dua hal yang berbeda, tidak bahagia dalam frase jerit di wujudkan dalam kesenangan, yaitu dalam frase Tawa kelakar badut badut seraka.
c)    Nonsense
Bentuk nonsense pada lirik di atas menimbulkan suasana atau asosiasi yang menggugah semangat untuk maju.
3.    Penciptaan arti
Maksud yang terkandung dalam karya sastra itu biasanya tersirat secara implicit atau eksplisit. Terkadang juga banyak maksud yang disampaikan seorang pengarang atau penulis secara gamblang. Dibawah ini merupakan penggalan lirik lagu Iwan Fals diatas.
Lestarikan alam hanya celoteh belaka
Lestarikan alam mengapa tidak dari dulu
Oh mengapa
Celoteh belaka dalam frase diatas merupakan suatu tindakan berupa obrolan semata. Dalam lirik diatas Lestarikan alam hanya celoteh belaka menjelaskan suatu proses yang tidak disertai oleh tindakan. Kemudian mengeluh karena tindakan yang lalu tidak dilaksanakan, karena adanya kata mengapa yang berupa kalimat Tanya.
B.   Kaitan Sosiologis Antara Lirik Lagu dengan Kenyataan.
Pembangunan yang mengusik
Pembangunan merupakan suatu usaha atau rangkaian usaha pertumbuhan dan perubahan yang terencana dan dilakukan secara sadar oleh suatu bangsa, negara dan pemerintah, menuju modernitas dalam rangka pembinaan bangsa. usaha yang dilakukan untuk maju dan berubah menjadi lebih baik itulah sebuah pembangunan, namun kegiatan usaha itu haruslah terencana dan dilakukan secara sadar, karena segala sesuatu yang terencana mulai dari bagaimana bentuk yang diinginkan hingga bagaimana nantinya menghadapi masalah yang datang. Usaha tersebut juga harus dilakukan dengan sadar sebagai bentuk dari keinginan yang ingin diimplementasikan, sehingga kegiatan tersebut bukanlah sebuah angan yang bisa dilakukan dari alam bawah sadar. Kegiatan pembangunan ini dilakukan oleh bangsa, negara dan pemerintah atau secara mudah dapat dikatakan semua pihak yang menjadi elemen dari kesatuan yang menginginkan kemajuan menuju modernitas sebagai bentuk pembinaan bangsa.
Pengertian pembangunan mungkin menjadi hal yang paling menarik untuk diperdebatkan. Mungkin saja tidak ada satu disiplin ilmu yang paling tepat mengartikan kata pembangunan. Sejauh ini serangkaian pemikiran tentang pembangunan telah ber­kembang. Mengenai pengertian pembangunan, para ahli memberikan definisi yang bermacam-macam seperti halnya peren­canaan.
Pembangunan adalah segala upaya yang dilakukan secara terencana dalam melakukan perubahan dengan tujuan utama memperbaiki dan meningkatkan taraf hidup masyarakat, meningkatkan kesejahteraan dan meningkatkan kualitas manusia (JAKOB OETAMA).
Pada dasarnya pembangunan tidak dapat dipisahkan dari pertumbuhan, dalam arti bahwa pembangunan dapat menyebabkan terjadinya pertumbuhan dan pertumbuhan akan terjadi sebagai akibat adanya pembangun­an. Dalam hal ini pertumbuhan dapat berupa pengembangan atau per­luasan  atau peningkatan dari aktivitas yang dilakukan oleh suatu komunitas masyarakat.
Terkadang saat system pembangunan itu diterapakan pada sebuah tempat maka hal yang akan dilakukan untuk memajukan suatu Negara itu akan merusak likungkan, bisa lingkunan hutan, laut, dan lain sebagainya, bila tidak diperhitungkan secara matang. Disini seorang Iwan Fals mengkritik pembangunan yang telah merusak lingkungan hutan dengan lagu yang diciptakanya dengan merealitakan kondisi yang ada saat hal itu terjadi dengan lirik lagunya. Seperti halnya dengan penggalan lirik dibawah ini.
Raung buldozer gemuruh pohon tumbang
Berpadu dengan jerit isi rimba raya
Tawa kelakar badut badut serakah
Tanpa HPH berbuat semaunya
(Isi Rimba Tak Ada Tempat Berpijak Lagi/1982 )
Pada penggalan lirik Isi Rimba Tak Ada Tempat Berpijak Lagi yang dicipta pada tahun 1982 ini, seorang Iwan Fals menggambarkan tentang keaadaan hutan pada saat hal itu terjadi secara nyata. Disini sang penulis syair menjelaskan bsecara nyata menggenai penggusuran hutan yang terjadi di Indonesia. Hutan-hutan yang sebagai tempat hidup flora dan fauna dimusnakan hanya untuk membangun sebuah kota.
Jumlah hutan-hutan di Indonesia sekarang ini makin turun dan banyak dihancurkan berkat penebangan hutan, penambangan, perkebunan agrikultur dalam skala besar, kolonisasi, dan aktivitas lain yang substansial, seperti memindahkan pertanian dan menebang kayu untuk bahan bakar. Luas hutan hujan semakin menurun, mulai tahun 1960an ketika 82 persen luas negara ditutupi oleh hutan hujan, menjadi 68 persen di tahun 1982, menjadi 53 persen di tahun 1995, dan 49 persen saat ini. Bahkan, banyak dari sisa-sisa hutan tersebut yang bisa dikategorikan hutan yang telah ditebangi dan terdegradasi.
PENUTUP
Simpulan
Setiap menciptakan sebuah lirik lagu Iwan Fals selalu terdapat masalah atau konflik didalamnya. Lagu-lagu Iwan Fals selalu mengkritiki keadaan sosial. Kritik-kritik itu seperti kritik dalam pembangunan yang judul lagunya meliputi Isi Rimba Tak Ada Tempat Berpijak Lagi, Tak Biru Lagi Lautku, Lancar, kritik terhadap ketidak adilan: Siang Seberang Istana, Sore Tugu Pancoran, Kritik Terhadap Pembangunan yang menggusur: Mereka Ada di Jalan, Ujung Aspal Pondok Gede, Kritik terhadap penguasa yang otoriter: Bento, Bongkar, Kritik dibidang hukum: Kisah Motorku, Kereta Tiba Pukul Berapa, Kritik terhadap budaya korupsi: Tikus-Tikus Kantor,  Kritik terhadap anggota dewan yang tidak memperjuangkan hak-hak rakyat: Wakil Rakyat, Kritik terhadap menyempitnya lapangan kerja: Sarjan Muda, Kritik terhadap pemerintah yang tak memperhatikan sosok guru: Guru Umar Bakri. Dengan menggunakan kritik tersebut Iwan Fals bisa menggambarkan secara riil.
Pengarang sebagai pencipta karya sastra yang tentu saja hidup dimasyarakat dengan segala kejadiannya dan juga pengarang sebagai individu selalu dilindungi dengan segala hal tentang hidup dan pribadinya. Hal ini ternyata mempunyai pengaruh yang besar dan kuat dalam menciptakan sebuah karya sastra, seperti pada kumpulan lagu Iwan Fals, terciptanya lagu tersebut karena pengarang sendiri mengalami dan merasakan apa yang selama ini terjadi. Jadi antara karya sastra dan pengarang terdapat hubungan timbal balik yang saling mempengaruhi. Adanya pengaruh yang kuat dari masyarakat terhadap pengarang sehingga pengarang mampu membuat lagu yang mana lagu tersebut didapat dari ruang lingkup masyarakat. Kumpulan lagu Iwan Fals merupakan cermin keadaan masyarakat pada saat itu dan tercipta karena adanya pengaruh kehidupan masyarakat disekitar. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa adanya persaingan dalam dunia politik dan dunia ekonomi yang sangat kongrit, dalam hal ini pencipta lagu mengemukakan rakyat yang menjadi korban dalam persaingan itu, sehingga rakyat kecil makin lama makin kecil.
Saran
Setelah melalui proses pengumpulan data sampai menyimpulkan hasil penelitian, penulis mempunyai beberapa hal untuk disampaikan. Untuk guru bahasa Indonesia dapat memanfaatkan penelitian ini dalam kegiatan belajar mengajar, khususnya sekolah menengah umum, maka kumpulan lagu karya Iwan Fals ini dapat dijadikan bahan pengajaran bagi para siswa.
Sastrawan sebagai pencipta karya sastra hendaknya menciptakan karya-karya yang bermutu dan membawa misi dari masyarakat saat tulisan ini dibuat, sehingga pembaca tau tentang apa atau kejadian pada saat itu.
Untuk peneliti lain, studi mengenai lirik lagu Iwan Fals ini bisa digunakan sebagi acuan untuk meneliti lirik-lirik lagu Iwan Fals maupun lirik lagu dari musisi lainnya.
Studi ini bisa dimanfaatkan oleh mahasiswa sebagai penunjang belajar atau tugas akhir mereka.
Untuk dunia pendidikan, sebuah studi ini bisa digunakan untuk sarana belajar mengajar, karya Iwan Fals ini bisa digunakan sebagai bahan ajar untuk materi aparesiasai puisi.
Disini penulis juga merasa belumlah mencapai taraf kesempurnaan dan tetap  mengharapkan kritik dan saran dari pembaca. Penulis menyelesaikan hasil penelitian ini  dan mempersembahkan untuk dinikmati pembaca supaya bisa menambah wawasan tentang dunia sastra terutama dalam lirik lagu.

Daftar Pustaka
Faruk, Dr. 2005. Pengantar Sosiologi sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Keraf, Gorys Dr.1994. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Kusnadi dan Sutejo. 2011. Sosiologi Sastra, Menguak Dimensionalitas Sosial Dalam Sastra. Yogyakarta: Pustaka Feicha.
Pradopo, Rachamat Djoko. 2010. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
----------,  2011. Beberapa Teori Satra, Metode Kritik, Dan Penerapannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Ratna, Nyoman Kutha. 2009. Teori,Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Sugiono, Muhadi. 1999. Kritik Antonio Gramsci Terhadap pembangunan dunia ketiga. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Sutejo dan Kasnadi. 2009. Kajian Puisi, Teori dan Aplikasinya. Yogyakarta: Pustaka Feicha.
Sutejo dan Sugianto. 2010. Apresiasi Puisi Memahami Isi, Mengolah Hati. Yogyakarta: Pustaka Feicha.
Wellek, Rene dan Austin Warren. 1995.  Teori kesusastraan (terjemahan). Jakarta: Gramedia Pustak Utama.
Zulfahnur. Teori Sastra.  Universitas Terbuka.
Internet:
http://sohdis.wordpress.com/2010/08/20/analisis-puisi/ (di akses pada hari sabtu, 14 Agustus 2012, pukul 22:15)
http://amandafanisa.blogspot.com/2011/11/pengertian-lirik-lagu.html (di akses pada hari sabtu, 14 Agustus 2012, pukul 22:15)
http://jankerdwells.wordpress.com/2011/05/19/album-album-iwan-fals-falskografi/ (di akses pada hari sabtu, 14 Agustus 2012, pukul 22:15)
http://hukum-on.blogspot.com/2012/06/pengertian-hukum-menurut-para-ahli.html (di akses pada hari sabtu, 09 maret 2013, pukul 22:53)
http://insanicita.blogspot.com/2012/03/konsep-keadilan-sosial-menurut-john.html (di akses pada hari sabtu, 09 maret 2013, pukul 22:57)
http://carapedia.com/pengertian_definisi_pembangunan_info2042.html (di akses pada hari sabtu, 09 maret 2013, pukul 23:21)
http://oibop.blogspot.com/2012/05/biografi-iwan-fals-masa-kecil-iwan-fals.html (di akses pada hari sabtu, 23 maret 2013, pukul 00:21)

1 komentar: