Kamis, 13 Juni 2013

Sukses Tak Cukup INSTAN

Air Mata Anakku
Karya : Shoim Anwar

Dalam cerpen ini menceritakan bagaimana segala sesuatu, dari sekolah sampai bekerja berjalan dengan sangat instan. Tidak ada kata mustahil di Jaman yang sekarang ini semua bisa berjalann dengan mulus bahkan instan semua karena uang. Namun semua itu hanya akan membawa kita dalam kehancuran, kita boleh bangga dengan apa yang kita dapatkan sekolah bisa lulus dengan gampang, kuliah bisa masuk di universitas favorit bahkan S1 ditempuh hanya dalam dua tahun. Meskipun semuanya berjalan denga gampang atau bisa dikatakan instan,ada juga yang menjalani semua itu dengan proses dan benar benar dengan usaha keras. Bagaimana tidak kita belajar dengan sungguh sungguh untuk mendapatkan hasil atau nilai yang memuaskan, bisa lulus dengan nilai yang cukup baik, dan bisa masuk PTN yang di ingginkan lulus dengan IPK yang memuaskan bisa bekerja sesuai cita-cita. Semua itu butuh proses dan proses inilah yang akan membuat kita bangga dengan diri kita.

Segala sesuatu yang instan itu hanya indah diawal, akan berakhir dengan kehancuran yang cukup menyakkitkan di bandingkan dengan proses hidup yang kita jalani,meskipun kita menjalani semua ini dengan tahapan-tahapan kita akan merasakan hasil jerih payah kita dengan bahagia dan indah selamanya tak pernah pudar.

Cerpen ini bisa dikatakan cukup bagus, ceritanya bisa sampai kepada pola pikir pembaca, dan ini ada dalam kehidupan kita sehari-hari. Ketika kita membaca cerpen ini kita bisa merasakan betapa meruginya orang tersebut yang menjalani kehidupan ini dengan tahapan yang begitu instan. Dan menjadikan para pembaca agar bisa menikmati kehidupan kita melalui suatu proses. Namun dibalik kelebihan ada juga kekurangan dari cerpen tersebut. Cerpen ini mengangkat kisah nyata namun tidak memberikan solusi di akhir cerita, jika ada pembaca yang membaca dan memberikan respon yang tidak sesuai dengan harapan penulis maka pembaca akan mengikuti cara tokoh yang di ceritakan di cerpen tersebut.

Cerpen ini dapat dikaitkan dengan Teori Resepsi Sastra. Dimana pembaca berusaha mengkaji hubungan karya sastra dengan resepsi (penerimaan) pembaca. Dalam pandangan teori ini makna sebuah karya sastra tidak dapat dipahami melalui teks sastra itu sendiri, melainkan hanya dapat dipahami dalam konteks pemberian makna yang dilakukan oleh pembaca. Dengan kata lain, makna karya sastra hanya dapat dipahami dengan melihat dampaknya terhadap pembaca. Karena dalam cerpen ini pembaca dituntut untuk menafsirkan segala sesuatu yang terdapat dalam cerpen. Hanya dengan pemikiran pribadi pembaca semuanya bisa tergambar jelas makna yang terkadung dalam cerpen ini. Karena setiap pembaca pasti memiliki penafsiran yang perbeda terhadap karya sastra yang dibacanya.

Suatu karya sastra akan lebih hidup ketika dibeikan penafsiran yang positif oleh pembaca, dengan kata lain kita sebagai pembaca setelah memahami makna cerpen tersebut kita bisa seakan akan merasakan bahkan masuk dalam cerita tersebut. Dalam kutipan “ Bapak dapat salam dari Mbak Titin,” kalimat ini memiliki penafsiran yang berbeda antara pembaca satu dengan pembaca yang lainya. Salam yang di maksudkan di sini ialah salam dari seseorang yang sengaja di sembuyikan oleh bapak Madori teman spesial. Jika kita menafsikan yang lain akan terjadi penafsiran makna salam dari seorang teman dari pak Madori tersebut.

Cerpen ini menggunakan Aliran Sastra Materialisme dimana aliran ini merupakan wujud dari aliran naturalisme yang bersifat kebendaan atau materi, yang mana mengemukakan bahwa dunia sama sekali bergantung dengan materi dan gerak. Dalam cerpen ini penulis mengaitkan Cerpen Air Mata Anakku denga aliran materialisme, dimana sesuai yang dijelaskan di atas bahwa aliran Materialisme ini memnganggap bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini tidak lepas dari uang (Materi).

Bagaiman tidak semua yang ada dalam cerpen ini berkaitan erat dengan materi, mulai dari sekolah, kuliah bahkan sampai kerja tokoh dalam cerpen ini melaui semua itu dengan instan tanpa proses, hanya dengan uang tokoh tersebut menganggap semua akan lancar, memang dalam cerpen ini tokoh “Huki” dia tergolong siswa yang paling malas belajar di sekolah, dia ingin lulus dengan mudah maka di berilah guru cara agar dia bisa lulus sekolah, seperti dalam kutipan “Huki, kamu anak yang malas. Pingin lulus kan ? Nah perhatikan semuanya ada beberapa cara untuk itu tapi ini rahasia jangan sampai ketahuan orang luar” dalam kutipan tersebut bisa dikatakan materialisme, mereka mau lulus tetapi tidak mau belajar.

Berlanjut pemikiran Huki ia ingin kuliah tapi segera bekerja, lagi-lagi ia tidak menjalani secara wajar melalui proses. Dengan bermodalkan ijazah SMA ia ikut test pegawai negeri tidak lain orang tua ikut andil yakni dengan mencari loby agar Huki bisa di terima. Hal tersebut pun merupakan aliran materialisme mengapa bisa dikatakan seperti itu karena mencari loby di sini dimaksudkan melalui jalan belakang yang mengggunakan uang atau sejenisnya agar dipermudah urusan test.

Setelah ia diterima sebagtai pegawai negeri ia ingin menaikan tingkat karirnya, ia terpaksa harus kuliah, kuliahpun di anggap mudah dan memang bisa lulus S1 dengan cepat kurang lebih dua tahun. Setelah ia naik golongan ia berkeinginan untuk bs menjadi pemimpin di kantor tersebut, dengan menyingkirkan pemimpin sebelumnya dengan cara apapun ia lakukan, sampai akhirnya di pergi ke dukun agar dilancarkan urusannya. Lagi-lagi uang yang dipergunakan untuk memuluskan urusanya.

Semua itu berlanjut sampai ia menjadi pemimpin di kantor tersebut. Hasrat ingin menjadi pemimpin yang kekal pun ia rasakan. Ia tidak mau posisi itu jatuh ke orang lain atau anak buahnya. Ia menjalin hubngan baik dengan kolega-kolega besar kantor agar tetap menjadi pemimpin tanpa harus bersusah payah. Bagi Huki ilmu tidak begitu penting, yang penting ada uang semua akan lancar dan bisa berjalan sesuai harapanya, sampai pada hari tua pesiun akan menghampirinya, kecemasan pun muncul pada dirinya ia merasa tidak pantas di pensiun ia ingin bekerja dan menjadi pemimpin seterusnya karena semua itu bs membuat ia bangga.

Sampai pada titik akhir hari pensiunya ia masih saja menjalankan rutinitas yaitu bangun pagi, mandi mengenakan pakaian safarinya dan pamit kepada keluarganya ia akan berangakat kerja. Tangisan anaknya pun memecah ketika melihat ayahnya gila akan tahta.

Jadi dapat disimpulkan cerpen ini merupakan inspirasi bagi kalangan Muda agar tidak terperosok dalam jalan hidup yang serba instan, karena itu akan merusak diri sendiri dan bangsa Indonesia. Akan lebih indah jika kita menjalani kehidupan kita denga proses yang sewajarnya. Kita akan mendapatkan hasil serta kebahagiaan yang kekal dalam diri kita karena proses itulah yang akan mengantarkan kita pada kesuksesan.
 
Ronald Albert Michael W
095200107
B-2009

Tidak ada komentar:

Posting Komentar