KRITIK SOSIAL DALAM LIRIK LAGU IWAN FALS
PERIODE TAHUN 1980-1992
RONALD ALBERT
MICHAEL WIJAYA
Pendidikan
Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas
PGRI Adi Buana Surabaya
Abstrak
Bahasa merupakan sebagai sistem ketandaan tingkat pertama, yang sudah
mempunyai arti (meaning). Dalam karya sastra arti bahasa ini ditingkatkan
menjadi makna (significance) sebagai sitem tanda tingkat kedua. Seni musik
merupakan sarana budaya yang hadir dalam masyarakat sebagai konstruksi dari
realitas sosial yang dituangkan dalam bentuk lirik lagu. Pada prinsipnya lirik
lagu dapat menyatakan realitas kehidupan. Lirik Iwan Fals cukup berbeda, karena
Iwan Fals tidak mempersoalkan kelas tetapi lebih mengkritisi kelas tertentu
yang melakukan penidasan atau praktik ketidak adilan. Data yang dikumpulkan
berupa lirik lagu Iwan Fals. Pengumpulan data dilakukan dengan mendengarkan
lagu Iwan Fals, kemudian mentranskripsikan lirik-lirik lagu Iwan Fals. Hasil
yang diperoleh dari penelitian dalam kritik sosial dalam lirik lagu Iwan Fals dapat disimpulkan bahwa setiap lirik lagu
Iwan Fals selalu mencerminkan kondisi sosial yang terjadi saat lirik tersebut
dicipta, seperti pada lirik kisah
motorku, sarjana muda, guru umar bakri, tak biru lagi lautku, isi rimba tak ada
tempat berpijak lagi, kereta tiba pukul berapa, siang seberang istana, sore
tugu pancoran, ujung aspal pondok gede, tikus kantor, lancer, surat buat wakil
rakyat, bongkar, bento, dan mereka ada dijalan.
Kata Kunci : Bahasa, Iklan, Semiotika.
Abstract
Language is sign
system first level, which already has a meaning (Meaning). In this language
literature meaning elevated to meaning (significance) as sign system second
level. Music is a means of cultures present in the community as
the construction of social reality embodied in the form of song lyrics. In
principle, the lyrics of the song to express the reality of life. Lyrics of Iwan Fals’s song quite different, because Iwan
fals did not question the class but more critical of a particular class or
practice that does oppression injustice. Data collected in the form Iwan Fals lyric song. Data collection is done by
listening to the Iwan Fals song, then transcribe the lyrics Iwan Fals. The results obtained from research in the social
criticism in the lyrics of the Iwan Fals’s song
can be concluded that each Iwan Fals’s song always reflect the social conditions that
occur when the lyrics created, as on the lyrics kisah
motorku, sarjana muda, guru umar bakri, tak biru lagi lautku, isi rimba tak ada
tempat berpijak lagi, kereta tiba pukul berapa, siang seberang istana, sore tugu
pancoran, ujung aspal pondok gede, tikus kantor, lancer, surat buat wakil
rakyat, bongkar, bento, dan mereka ada dijalan.
Key Words :Language, Lyric Song, Social Criticism
PENDAHULUAN
Pada perkembangannya, bahasa puisi diapresiasikan oleh
sarana kesenian salah satunya lirik lagu dalam seni musik. Seni musik merupakan
sarana budaya yang hadir dalam masyarakat sebagai konstruksi dari realitas
sosial yang dituangkan dalam bentuk lirik lagu. Pada awalnya kebutuhan lagu digunakan untuk kepentingan
upacara adat dan upacara ritual. Tetapi, seiring perkembangan masyarakat musik
telah berubah, bergeser menjadi sebuah komoditi yang dikomersialisasikan dan
menjadi barang ekonomi yang diperjualbelikan.
Musik merupakan perilaku sosial yang kompleks dan universal
yang didalamnya memuat sebuah ungkapan pikiran manusia, gagasan, dan ide-ide
yang mengandung sebuah pesan yang signifikan. Pesan atau ide yang disampaikan
melalui musik atau lagu biasanya memiliki keterkaitan dengan konteks sosial.
Lagu tidak hanya sebuah gagasan untuk menghibur, tetapi memiliki pesan-pesan
moral atau idealisme.
Pada saat ini kebanyakan orang lebih suka musik yang berbau
cinta dan musik yang tidak ada lirik edukatif. Seperti pada saat ini banyak
anak-anak kecil yang menyanyikan lagu liriknya bermakna putus cinta atau
lagu-lagu populer sesaat yang tanpa makna dan mendidik. Seharusnya anak kecil
menyanyikan lagu anak-anak yang semua liriknya mengandung keceriaan dan
semangat untuk menjalani masa-masa kecil.
Dalam kanca musik Indonesia saat ini, musik-musik dalam
negri di banjiri oleh Boy-band, karena produser musik adalah sebuah industri
yang mencari untung dan tak mau rugi. Pada jaman sekarang ini musik yang
bermaknakan kritik sosial dapat dikatakan vakum, dan tergantikan dengan musik
yang berbau cinta dan tanpa makana yang mendidik. Seperti halnya saat ini
bermunculan wajah-wajah baru dalam kanca musik Indonesia, yaitu k-pop yang sama
saja tak menyentuh pada musik yang
bertema kritik sosial. Lirik-liriknya hanya bertemakan tentang keputus asaan,
patah hati dan lain sebainya.
Bahasa lirik
lagu sebenarnya tidak jauh berbeda dengan bahasa puisi. Hal ini sesuai dengan
pengertian lirik lagu menurut Semi (1988:106) yang mengatakan, “lirik adalah
puisi yang pendek yang mengekspresikan emosi”. Hal ini juga diperkuat pada
definisi lain mengenai lirik lagu terdapat dalam Kamus Besar Bahasa
Indonesia (1990: 528), yaitu lirik lagu adalah karya puisi yang
dinyanyikan. Bentuk ekspresi emotif tersebut diwujudkan dalam bunyi dan kata.
Bahasa pada lirik lagu memiliki kaidah-kaidah puisi yaitu terdapat unsur emotif
melalui bunyi dan kata. Selain itu untuk memperoleh kesan tertentu seperti
puisi, bahasa lirik lagu juga bersifat ringkas-padat. Hal ini disebabkan lirik
lagu telah mengalami proses pemadatan makna dan kreativitas pemilihan diksi
dari penyairnya.
Pada prinsipnya lirik lagu dapat
menyatakan realitas kehidupan. Realitas yang dibawakan akan menjadi lebih
menarik, menyentuh hati atau bahkan mamampu membawa dalam imajinasi. Realita
kehidupan merupakan hal yang paling dekat dibawakan pada lirik lagu.
Maka jika dihubungkan dengan realita,
lirik Iwan Fals cukup berbeda, karena Iwan Fals tidak mempersoalkan kelas
tetapi lebih mengkritisi kelas tertentu yang melakukan penidasan atau praktik
ketidak adilan.
Di dalam lagu-lagu Iwan Fals sebagaian
besar bertemakan kritik dan keadilan sosial. Dengan mengetahui sebuah tema yang
terdapat dalam suatu karya sastra khususnya pada lirik lagu, kita dapat
memaknai atau mengetahui maksud yang akan disampaikan.
Sebagai
penulis lirik lagu, Iwan Fals mengeluarkan album dari periode tahun 1979-2007
serta album-album yang dibuat kumpulan (the best) maupun yang
diaransemen ulang dan juga kumpulan lagu single-nya. Iwan fals merupakan
pengarang yang mengandalkan kekuatan dalam lirik lagunya. Ciri khas yang
terdapat dalam lirik lagu Iwan Fals adalah penggunaan “tema” yang selalu
berhungan dengan kehidupan yang selalu kita jumpai. Dalam mencipta lagu, Iwan mendapat inspirasi dari koran,
televisi, keadaan sekitar dan alam, dengan demikian kita dapat mengerti maksud
lagu-lagu Iwan Fals.
Saat mencari sebuah makna yang
terkandung dalam sebuah karya sastra khususnya lirik lagu memerlukan konvensi
ketidak langsungan ekspresi. Ketidaklangsungan itu merupakan konvensi sastra pada
umumnya. Karya sastra itu merupakan ekspresi yang tidak langsung, yaitu
menyatakan pikiran atau gagasan secara tidak langsung, dengan cara lain.
Ketidaklangsungan ekspresi itu disebabkan oleh tiga hal, yaitu penggantian arti
(displacing of meaning), penyimpangan arti (distorting of meaning),
penciptaan arti (creating of meaning) (Riffaterre dalam Pradopo 2011:
124).
METODE
Untuk mencapai suatu tujuan penelitian
perlu digunakan metode atau cara-cara tertentu agar mendapatkan hasil yang
diharapkan dalam melakukan sesuatu penelitian ilmiah. Sebab dengan metode
penelitian kita bisa menentukan berhasil tidaknya suatu penelitian serta dapat
menentukan kualitas dari tujuan penelitian tersebut. Dalam bab ini, akan
diuraikan metode penelitian yang akan digunakan dalam menganalisis lirik lagu
Iwan Fals yaitu tentang Kritik Sosial yang terdapat dalam lirik-lirik lagu yang
akan dianalisis. Data
yang dikumpulkan adalah berupa kata-kata dan
bukan angka-angka. Hal itu disebabkan oleh adanya penerapan metode kualitatif.
Selain itu, semua yang dikumpulkan berkemungkinan menjadi kunci terhadap apa
yang sudah diteliti.
Analisis data
yang digunakan oleh penulis adalah Menginterpretasi berdasarkan teori yang
digunakan untuk mendapatkan deskripsi atau gambaran makna dalam lirik lagu Iwan Fals yaitu dengan mengumpulkan data yang berupa lirik lagu.
Analisis data dari data yang dikumpulkan adalah
sebagai berikut. Menganalisis makna yang terkandung dalam setiap lirik
lagu Iwan Fals dengan menggunakan konvensi ketidak langsungan ekspresi.
Kemudian dari makan itu akan tergambar, apa maksud dan tujuan pengarang
menuliskan karyanya. Karena biasanya setiap karya sastra itu berhubungan dengan
keadaan sosial saat diciptanya karya sastra itu.
HASIL DAN
PEMBAHASAN
Karya sastra itu merupakan suatu bentuk ekspresi yang
tidak langsung, yaitu menyatakan pokok pikiran dengan cara tidak langsung,
sehingga mempersulit seorang pembaca untuk mengetahui makna yang terkandung
didalamnya
(puisi). Untuk mengetahui makna
puisi secara utuh diperlukan aturan/konvensi sastra, yaitu konvensi
ketidaklangsungan ekspresi. Konvensi ketidaklangsungan ekspresi itu meliputi tiga hal, yaitu: (1) penggantian arti (displacing of meaning), (2) penyimpangan arti (distorting of meaning), (3) penciptaan arti (creating of meaning).
A. Kritik Terhadap Pembangunan
Lirik
Lagu “Isi Rimba Tak Ada Tempat Berpijak
Lagi” ( Album Opini 1982 )
Hutan merupakan jantung kehidupan bagi setiap
makhluk, terutama hewan. Manusia juga memerlukan hutan untuk ketergantungan
hidupnya, karena hutan terdapat SDA didalamnya yang dibutuhkan manusia untuk
kelangsungan hidupnya. Maka dari itu rawatlah hutan kita. Berikut ini merupakan
lirik lagu Iwan Fals mengenai penggusuran hutan.
Raung buldozer gemuruh pohon tumbang
Berpadu dengan
jerit isi rimba raya
Tawa kelakar
badut badut serakah
Tanpa HPH
berbuat semaunya
Lestarikan alam
hanya celoteh belaka
Lestarikan alam
mengapa tidak dari dulu
Oh mengapa
Oh jelas kami
kecewa
Menatap rimba
yang dulu perkasa
Kini tinggal
cerita
Pengantar lelap
si buyung
Bencana erosi
selalu datang menghantui
Tanah kering
kerontang banjir datang itu pasti
Isi rimba tak
ada tempat berpijak lagi
Punah dengan
sendirinya akibat rakus manusia
Lestarikan
hutan hanya celoteh belaka
Lestarikan
hutan mengapa tidak dari dulu
Saja
Oh jelas kami
kecewa
Mendengar
gergaji tak pernah berhenti
Demi kantong
pribadi
Tak ingat rejeki generasi nanti
1. Penggantian arti
Dalam
lirik lagu ini iwan fals menggunakan bahasa kiasan atau gaya bahasa, khususnya
metafora. Metafora merupakan kiasan pembanding yang sehingga mengalihkan arti
trtentu kepada suatu hal yang lain. Seperti dalam penggalan lirik “Rimba yang dulu perkasa” ini jika
diartikan secara satu persatu maka artinya akan rancu. Rimba merupakan hutan yang amat sangat lebat, yang ditumbuhi oleh
pepohonan yang besar dan rimbun. Perkasa
merupakan suatu sifat yang kuat dan tangguh serta berani, dan sifat ini
biasanya ditujukan kepada manusia.
Pada penggalan
lirik diatas, gambaran tidaklah disebutkan secara terang-terangan. Dengan
demikian gambaran itu kita cari sendiri. Gambaran dalam kalimat tersebut
menunjukkan mengenai keadaan hutan yang dahulunya masih alami. Dengan demikian
lirik tersebut berarti “keadaan hutan
yang masalalunya masih sangat indah dan rimbun oleh pepohonan yang belum
terjamah tangan jail manusia yang sehingga merusak keindahan hutan itu seperti
sekarang”
2. Penyimpangan arti
a) Ambiguitas
Dalam lirik
lagu ini juga memiliki arti ganda, seperti dalam penggalan lirik “Berpadu dengan jerit isi rimba raya”. Jerit isi rimba raya dalam lirik ini
memiliki arti ganda. Bisa diartikan sebagai suara
yang melengking dari hewan yang hidup didalam hutan, namun bisa diartikan
juga sebagai hutannya yang menjerit,
karena pepohonan telah ditebangi.
b)
Kontradiksi
Pada lirik lagu diatas juga terdapat
kontradiksi atau penggunaan kata yang berlawanan. Berikut ini adalah penggalan
lirik yang terdapat kontradiksi didalamnya.
Raung buldozer
gemuruh pohon tumbang
Berpadu dengan jerit isi rimba raya
Tawa kelakar
badut badut serakah
Tanpa HPH berbuat semaunya
Lirik di atas
terdapat antitesis yaitu adanya pertentangan antara dua hal yang
berbeda, tidak bahagia dalam frase jerit di wujudkan dalam kesenangan,
yaitu dalam frase Tawa kelakar badut
badut seraka.
c)
Nonsense
Bentuk nonsense
pada lirik di atas menimbulkan suasana atau asosiasi yang menggugah
semangat untuk maju.
3.
Penciptaan arti
Maksud yang terkandung dalam
karya sastra itu biasanya tersirat secara implicit atau eksplisit. Terkadang
juga banyak maksud yang disampaikan seorang pengarang atau penulis secara
gamblang. Dibawah ini merupakan penggalan lirik lagu Iwan Fals diatas.
Lestarikan alam
hanya celoteh belaka
Lestarikan alam
mengapa tidak dari dulu
Oh mengapa
Celoteh belaka
dalam frase diatas merupakan suatu tindakan berupa obrolan semata. Dalam lirik
diatas Lestarikan alam hanya celoteh
belaka menjelaskan suatu proses yang tidak disertai oleh tindakan. Kemudian
mengeluh karena tindakan yang lalu tidak dilaksanakan, karena adanya kata mengapa yang berupa kalimat Tanya.
B. Kaitan Sosiologis Antara Lirik Lagu dengan Kenyataan.
Pembangunan yang mengusik
Pembangunan
merupakan suatu usaha atau rangkaian usaha
pertumbuhan dan perubahan yang terencana dan dilakukan secara sadar oleh suatu
bangsa, negara dan pemerintah, menuju modernitas dalam rangka pembinaan bangsa. usaha yang dilakukan untuk maju dan berubah menjadi lebih
baik itulah sebuah pembangunan, namun kegiatan usaha itu haruslah terencana dan
dilakukan secara sadar, karena segala sesuatu yang terencana mulai dari
bagaimana bentuk yang diinginkan hingga bagaimana nantinya menghadapi masalah
yang datang. Usaha tersebut juga harus dilakukan dengan sadar sebagai bentuk
dari keinginan yang ingin diimplementasikan, sehingga kegiatan tersebut
bukanlah sebuah angan yang bisa dilakukan dari alam bawah sadar. Kegiatan
pembangunan ini dilakukan oleh bangsa, negara dan pemerintah atau secara mudah
dapat dikatakan semua pihak yang menjadi elemen dari kesatuan yang menginginkan
kemajuan menuju modernitas sebagai bentuk pembinaan bangsa.
Pengertian pembangunan
mungkin menjadi hal
yang paling menarik untuk diperdebatkan. Mungkin saja tidak ada satu disiplin
ilmu yang paling tepat mengartikan kata pembangunan. Sejauh ini
serangkaian pemikiran tentang pembangunan telah berkembang. Mengenai pengertian pembangunan, para ahli memberikan
definisi yang bermacam-macam seperti halnya perencanaan.
Pembangunan adalah segala upaya yang
dilakukan secara terencana dalam melakukan perubahan dengan tujuan utama
memperbaiki dan meningkatkan taraf hidup masyarakat, meningkatkan kesejahteraan
dan meningkatkan kualitas manusia (JAKOB
OETAMA).
Pada
dasarnya pembangunan tidak dapat dipisahkan dari pertumbuhan, dalam arti bahwa
pembangunan dapat menyebabkan terjadinya
pertumbuhan dan pertumbuhan akan terjadi sebagai akibat adanya pembangunan.
Dalam hal ini pertumbuhan dapat berupa pengembangan atau perluasan atau
peningkatan dari aktivitas yang dilakukan oleh suatu komunitas masyarakat.
Terkadang saat system pembangunan itu diterapakan pada
sebuah tempat maka hal yang akan dilakukan untuk memajukan suatu Negara itu
akan merusak likungkan, bisa lingkunan hutan, laut, dan lain sebagainya, bila
tidak diperhitungkan secara matang. Disini seorang Iwan Fals mengkritik
pembangunan yang telah merusak lingkungan hutan dengan lagu yang diciptakanya
dengan merealitakan kondisi yang ada saat hal itu terjadi dengan lirik lagunya.
Seperti halnya dengan penggalan lirik dibawah ini.
Raung buldozer gemuruh pohon tumbang
Berpadu dengan jerit isi rimba raya
Tawa kelakar badut badut serakah
Tanpa HPH
berbuat semaunya
(Isi Rimba Tak
Ada Tempat Berpijak Lagi/1982 )
Pada penggalan lirik Isi
Rimba Tak Ada Tempat Berpijak Lagi yang dicipta pada tahun 1982 ini, seorang Iwan Fals
menggambarkan tentang keaadaan hutan pada saat hal itu terjadi secara nyata.
Disini sang penulis syair menjelaskan bsecara nyata menggenai penggusuran hutan
yang terjadi di Indonesia. Hutan-hutan yang sebagai tempat hidup flora dan
fauna dimusnakan hanya untuk membangun sebuah kota.
Jumlah hutan-hutan di Indonesia
sekarang ini makin turun dan banyak dihancurkan berkat penebangan hutan,
penambangan, perkebunan agrikultur dalam skala besar, kolonisasi, dan aktivitas
lain yang substansial, seperti memindahkan pertanian dan menebang kayu untuk
bahan bakar. Luas hutan hujan semakin menurun, mulai tahun 1960an ketika 82
persen luas negara ditutupi oleh hutan hujan, menjadi 68 persen di tahun 1982,
menjadi 53 persen di tahun 1995, dan 49 persen saat ini. Bahkan, banyak dari
sisa-sisa hutan tersebut yang bisa dikategorikan hutan yang telah ditebangi dan
terdegradasi.
PENUTUP
Simpulan
Setiap menciptakan sebuah lirik lagu
Iwan Fals selalu terdapat masalah atau konflik didalamnya. Lagu-lagu Iwan Fals
selalu mengkritiki keadaan sosial. Kritik-kritik itu seperti kritik dalam
pembangunan yang judul lagunya meliputi Isi
Rimba Tak Ada Tempat Berpijak Lagi, Tak Biru Lagi Lautku, Lancar, kritik terhadap
ketidak adilan: Siang Seberang Istana,
Sore Tugu Pancoran, Kritik Terhadap Pembangunan yang menggusur: Mereka Ada di Jalan, Ujung Aspal Pondok
Gede, Kritik terhadap penguasa yang otoriter: Bento, Bongkar, Kritik dibidang hukum: Kisah Motorku, Kereta Tiba Pukul Berapa, Kritik terhadap budaya
korupsi: Tikus-Tikus Kantor, Kritik terhadap anggota dewan yang tidak
memperjuangkan hak-hak rakyat: Wakil
Rakyat, Kritik terhadap menyempitnya lapangan kerja: Sarjan Muda, Kritik terhadap pemerintah yang tak memperhatikan
sosok guru: Guru Umar Bakri. Dengan menggunakan kritik tersebut
Iwan Fals bisa menggambarkan secara riil.
Pengarang sebagai pencipta karya
sastra yang tentu saja hidup dimasyarakat dengan segala kejadiannya dan juga
pengarang sebagai individu selalu dilindungi dengan segala hal tentang hidup
dan pribadinya. Hal ini ternyata mempunyai pengaruh yang besar dan kuat dalam
menciptakan sebuah karya sastra, seperti pada kumpulan lagu Iwan Fals,
terciptanya lagu tersebut karena pengarang sendiri mengalami dan merasakan apa
yang selama ini terjadi. Jadi antara karya sastra dan pengarang terdapat
hubungan timbal balik yang saling mempengaruhi. Adanya pengaruh yang kuat dari
masyarakat terhadap pengarang sehingga pengarang mampu membuat lagu yang mana
lagu tersebut didapat dari ruang lingkup masyarakat. Kumpulan lagu Iwan Fals
merupakan cermin keadaan masyarakat pada saat itu dan tercipta karena adanya
pengaruh kehidupan masyarakat disekitar. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa
adanya persaingan dalam dunia politik dan dunia ekonomi yang sangat kongrit,
dalam hal ini pencipta lagu mengemukakan rakyat yang menjadi korban dalam
persaingan itu, sehingga rakyat kecil makin lama makin kecil.
Saran
Setelah
melalui proses pengumpulan data sampai menyimpulkan hasil penelitian, penulis
mempunyai beberapa hal untuk disampaikan. Untuk guru bahasa Indonesia dapat memanfaatkan
penelitian ini dalam kegiatan belajar mengajar, khususnya sekolah menengah
umum, maka kumpulan lagu karya Iwan Fals ini dapat dijadikan bahan pengajaran
bagi para siswa.
Sastrawan
sebagai pencipta karya sastra hendaknya menciptakan karya-karya yang bermutu
dan membawa misi dari masyarakat saat tulisan ini dibuat, sehingga pembaca tau
tentang apa atau kejadian pada saat itu.
Untuk peneliti
lain, studi mengenai lirik lagu Iwan Fals ini bisa digunakan sebagi acuan untuk
meneliti lirik-lirik lagu Iwan Fals maupun lirik lagu dari musisi lainnya.
Studi ini bisa
dimanfaatkan oleh mahasiswa sebagai penunjang belajar atau tugas akhir mereka.
Untuk dunia
pendidikan, sebuah studi ini bisa digunakan untuk sarana belajar mengajar,
karya Iwan Fals ini bisa digunakan sebagai bahan ajar untuk materi aparesiasai
puisi.
Disini
penulis juga merasa belumlah mencapai taraf kesempurnaan dan tetap mengharapkan kritik dan saran dari pembaca.
Penulis menyelesaikan hasil penelitian ini
dan mempersembahkan untuk dinikmati pembaca supaya bisa menambah wawasan
tentang dunia sastra terutama dalam lirik lagu.
Daftar Pustaka
Faruk,
Dr. 2005. Pengantar Sosiologi sastra.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Keraf,
Gorys Dr.1994. Diksi dan Gaya Bahasa.
Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Kusnadi
dan Sutejo. 2011. Sosiologi Sastra,
Menguak Dimensionalitas Sosial Dalam Sastra. Yogyakarta: Pustaka Feicha.
Pradopo,
Rachamat Djoko. 2010. Pengkajian Puisi. Yogyakarta:
Gajah Mada University Press.
----------, 2011. Beberapa
Teori Satra, Metode Kritik, Dan Penerapannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Ratna,
Nyoman Kutha. 2009. Teori,Metode, dan
Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Sugiono,
Muhadi. 1999. Kritik Antonio Gramsci
Terhadap pembangunan dunia ketiga. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Sutejo dan
Kasnadi. 2009. Kajian Puisi, Teori dan
Aplikasinya. Yogyakarta: Pustaka Feicha.
Sutejo
dan Sugianto. 2010. Apresiasi Puisi
Memahami Isi, Mengolah Hati. Yogyakarta: Pustaka Feicha.
Wellek,
Rene dan Austin Warren. 1995. Teori kesusastraan (terjemahan). Jakarta:
Gramedia Pustak Utama.
Zulfahnur.
Teori Sastra. Universitas Terbuka.
Internet:
http://sohdis.wordpress.com/2010/08/20/analisis-puisi/ (di akses pada hari sabtu, 14 Agustus 2012, pukul 22:15)
http://amandafanisa.blogspot.com/2011/11/pengertian-lirik-lagu.html (di akses pada hari sabtu, 14 Agustus 2012, pukul 22:15)
http://jankerdwells.wordpress.com/2011/05/19/album-album-iwan-fals-falskografi/ (di akses pada hari sabtu, 14 Agustus 2012, pukul 22:15)
http://hukum-on.blogspot.com/2012/06/pengertian-hukum-menurut-para-ahli.html (di akses pada hari sabtu, 09 maret 2013, pukul 22:53)
http://insanicita.blogspot.com/2012/03/konsep-keadilan-sosial-menurut-john.html (di akses pada hari sabtu, 09 maret 2013, pukul 22:57)
http://carapedia.com/pengertian_definisi_pembangunan_info2042.html (di akses pada
hari sabtu, 09 maret 2013, pukul 23:21)
http://oibop.blogspot.com/2012/05/biografi-iwan-fals-masa-kecil-iwan-fals.html (di akses pada hari sabtu, 23 maret 2013, pukul 00:21)