Kamis, 13 Juni 2013

Tak Ada Keadilan untuk Sang Penambah Devisa

Paket Mayat
Karya: Shoim Anwar
Dalam cerpen ini yang berjudul Paket Mayat Karya: M. Shoim Anwar menceritakan tentang Kuala Lumpur Ibu kota Malaysia merupakan salah satu negara yang menjadi sasaran oleh banyak para TKI untuk mengadu nasib disana. Seperti pada tokoh Suparjan yang digambarkan oleh M.Shoim Anwar dalam cerpennya “Paket Mayat”, beliau merupakan TKI illegal yang nekat pergi ke kuala lumpur tepatnya di Kuantan dengan tujuan memperoleh pekerjaan yang layak di sana, akan tetapi mimpi-mimpi Suparjan jauh dari kenyataan. Seperti pada kutipan:

“ Dulu aku menyarankan agar dia masuk lewat jalur resmi. Tapi rupanya dia punya perhitungan lain. Dia ikut-ikutan lewat jalur gelap ”

“ Naik bus dari Kuala Lumpur ke Kuantan memerlukan waktu sekitar empat jam “

“ Suparjan ternyata jadi kuli di proyek Pembangunan Hotel Seri Malaysia di Jalan Telok Sisek “ (Hal 149-151).

Berdasarkan dari kutipan di atas penulis menggambarkan perjuangan Suparjan seorang TKI untuk dapat sampai di tempat tujuan, yaitu Kuantan, Kuala Lumpur, Malaysia. Suparjan nekat pergi ke Kuala Lumpur, Malaysia karena alasan di kampungnya tidak ada pekerjaan lagi dan mimpi untuk mengubah hidup keluarganya menjadi labih baik.
Akan tetapi. Keberadaan Suparjan sebagai TKI di Kuala Lumpur, Malaysia tidak mengubah kondisi ekonominya untuk lebih baik. Keberadaan Suparjan di Kuala Lumpur, Malaysia tidak dihargai sedikitpun oleh masyarakat Malaysia, tenaga yang dikeluarkan Suparjan di Proyek Pembangunan Seri Malaysia tidak dianggap sama sekali. Dengan statusnya sebagai pekerja ilegal, banyak yang memanfaatkan segala posisi lemahnya untuk mengelabui Suparjan. Seperti pada kutipan:

“ Para pekerja liar sengaja dimanfaatkan dengan segala posisi lemahnya “

“ Ketika proyek menjelang rampung, polisi sengaja didatangkan untuk menggerebek mereka “

“ Para pekerja berlarian. Mereka pun tak terbayar “

“ Proyek hanya memberinya makan. Pengawas kerja yang mempekerjakannya menghilang saat gajian “ (Hal 151-152).

        Dari kutipan di atas, kita dapat membayangkan bagaimana nasib para TKI illegal yang berada di Kuantan, Kuala Lumpur, Malaysia. Nasib para TKI di Malaysia sungguh ironis, seperti yang digambarkan oleh Suparjan, Suparjan dan TKI lainnya tidak dibayar, hak mereka dimakan oleh orang-orang yang yang tidak punya hati, mereka tega membawa lari uang jerih payah para pekerja. Keberadaan para TKI disana tidak mendapat jaminan apapun. Ironisnya lagi banyak para TKI yang meninggal disana karena kecelakaan kerja jenazahnya tidak diurus dengan baik .
         Dari kutipan di atas sangatlah jelas digambarkan bahwa banyak kehidupan TKI di berbagai negara bahkan negara-negara tetangga jauh dari kelayakan, para TKI di berbagai negara dan negara-negara tetangga kurang mendapatkan perlindungan dari pemerintah setempat. Diharapkan pemerintah lebih peduli lagi terhadap nasib para TKI. Mereka mempunyai hak yang sama dengan warga Indonesia yang lainnya. Nasib TKI untuk menjadi labih baik dari sebelumnya ada ditangan kita. Lindungi para TKI

Ronald Albert Michael W
095200107
B-2009

Tidak ada komentar:

Posting Komentar